Implementasi dan Peranan AI (Artificial Intelligence) di Bidang Seni

 

   
   
Teknologi informasi merupakan salah satu teknologi yang berkembang dengan pesat saat ini yang dapat dipergunakan dalam memperoleh informasi yang akurat, relevan serta tepat waktu. Perkembangan teknologi telah merubah bagaimana cara kita hidup dan bekerja. Perkembangan teknologi informasi dunia yang begitu pesat sekarang ini telah merambah ke berbagai sektor. Seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, kita juga dituntut untuk dapat memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut. Salah satu cara memanfaatkan perkembangan teknologi informasi adalah penggunaan komputer di berbagai bidang kehidupan.


Rupert Thomson, Head of Artistic Programming at Art House Limited, mengemukakan bahwa seni adalah salah satu alat terbaik untuk memahami apa yang berubah di masyarakat kita dan AI mengambil peran penting dalam perubahan kehidupan masyarakat. Mulai dari hal sekecil hiburan konten di media sosial hingga agenda negara dalam menjalankan pemerintahan, semua memanfaatkan teknologi AI. Sama halnya dengan dunia seni yang memanfaatkan AI dalam satu siklus produksi, distribusi dan konsumsi.


kemampuan teknologi yang berkembang pesat seperti kecerdasan buatan atau biasa disebut Artificial Intelligence pada masa kini tidak hanya untuk mempermudah pekerjaan manusia melainkan juga dapat menciptakan suatu temuan yang memiliki unsur estetika. Contohnya adalah lukisan Edmond de Bellamy.




Sistem algoritma mesin AI untuk lukisan tersebut dirancang oleh kelompok seni dan peneliti AI yang tergabung di dalam Obvious Art yang terdiri dari Pierre Fautrel, Hugo Caselles-Dupré, Gauthier Vernier. Salah satu tujuan mereka adalah menjelaskan dan mendemokratisasikan kemajuan teknologi melalui karya seni. Proyek yang mereka kerjakan dimulai setahun yang lalu dengan penemuan Generative Adversarial Networks (GANs), yang merupakan algoritma Machine Learning yang menghasilkan gambar. Untuk lukisan Edmond Bellamy sendiri sudah dipamerkan dalam acara pelelangan karya seni Christie's Prints dan Multiples di New York. Awalnya, lukisan yang menampakan Edmond Bellamy ini hanya dihargai dengan rentang harga mulai dari 7.000 dolar AS atau Rp 106 juta. Namun saat acara pelelangan dimulai, harganya melejit hingga menyentuh harga 432 ribu dolar AS atau Rp 6,6 miliar.


Dalam produksi
Para penghasil karya yang memanfaatkan teknologi AI harus mempertanyakan pada diri masing-masing tentang apa tujuan, aplikasi dan implikasi dari pemanfaatan AI untuk menghasilkan karya. Lalu, bagaimana pengembangan AI bisa tetap menampilkan sisi-sisi kemanusiaan sebagai medium pengembangan ideologi? Jangan sampai teknologi AI atau machine learning digunakan untuk hal-hal yang melanggar aturan main dunia seni dan mengurangi sentuhan sifat manusia. Produksi karya tetap harus mengusung pesan-pesan sosial atau politik dalam balutan estetika yang tidak menyebrangi dunia seni itu sendiri.
Contohnya, penerapan sistem AI untuk membuat robot yang dapat menghasilkan karya seni. Tujuannya adalah untuk menampilkan kemahiran manusia dalam menyampaikan gagasan di mana ide kreatif dalam otak robot tetap berasal dari manusia. Jangan sampai justru penciptaan karya berbasis teknologi seutuhnya untuk menciptakan makhluk baru yang membuat manusia tidak lagi perlu berkarya.


Dalam distribusi
Manifestasi teknologi AI dan machine learning yang terbukti banyak memberikan dampak positif pada peradaban manusia juga ternyata menimbulkan sejumlah keraguan terhadap cara kerjanya. Salah satunya adalah keraguan akan cara kerja algoritma. Batasan atas penggunaan sistem AI dan machine learning harus bisa mempertimbangkan objektivitas dan nilai-nilai kesetaraan. Aplikasi sistem AI dan machine learning pada distribusi karya seni, contohnya, harus diatur sedemikian rupa agar tidak terjebak dalam ruang gema para pengguna.

Dalam konsumsi
Para konsumen juga berperan penting dalam pembentukan siklus produksi karya seni. Memiliki kesadaran tinggi atas trik algoritma bisa jadi salah satu cara termudah untuk melancarkan siklus penyebaran karya seni lebih sehat.

Lukisan Ciptaan AI Menang Lomba Seni, Memicu Perdebatan Panas Para Seniman

Karya bertajuk “Théâtre D'opéra Spatial” dibuat dengan software Midjourney, menang lomba lukis di AS. Penghargaan ini memicu perdebatan sengit apakah seni harus sepenuhnya dibuat manusia.
Lukisan Dibuat aplikasi Midjourney berbasis kecerdasan buatan menang lomba seni Colorado memicu perdebatan seniman
TANGKAPAN LAYAR LUKISAN BUATAN KECERDASAN BUATAN YANG MENANG LOMBA SENI DI COLORAO. SUMBER: DISCORD.

Melalui aplikasi pesan instan Discord, lelaki dengan nama pengguna Sincarnate memamerkan prestasinya di kompetisi seni rupa Colorado State Fair. “Saya menang juara pertama,” demikian bunyi chat-nya, yang disertai foto lukisan kanvas yang terpajang di pameran.

Namun, lukisan bertajuk “Théâtre D'opéra Spatial” bukanlah ciptaan tangannya sendiri. Warga AS yang bernama asli Jason Allen itu menghasilkan gambar pakai bantuan Midjourney, perangkat lunak disokong kecerdasan buatan (AI), yang menghasilkan gambar berdasarkan deskripsi teks.

    Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi seakan telah membuat standar baru yang harus dipenuhi. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi memberikan banyak pengaruh pada bidang seni. Pengaruh tersebut dapat berupa pengaruh positif maupun negatif. Dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat membawa perubahan yang besar di masyarakat. Teknologi dalam bidang seni memberikan kepuasan emosional tersendiri walaupun hasil yang dihasilkan memang tidak sesempurna buatan tangan. Setidaknya untuk sekarang. Lantas akan seperti apa kepuasan emosional yang kita peroleh dari teknologi tersebut di masa mendatang? Patut dinanti.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KASUS-KASUS CYBERCRIME